Sejarah Penyebaran Batik Jawa, Motif, Ornamen dan Makna

Salah satu referensi sejarah yang mencatat budaya batik di Jawa adalah peninggalan kerajaan Majapahit berupa arca. Ada banyak jenis ragam hias pada patung yang menampilkan motif seperti batik. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa pada saat pembuatan batik tradisi ini hanya untuk kalangan kerajaan, sehingga terkesan terbatas. Namun seiring perkembangan jaman, batik hasil karya banyak pegawai pemerintah mulai dibawa ke masyarakat luar.

Hal ini disebabkan banyaknya pegawai pemerintah yang tinggal di kabupaten di luar pemerintahan. Alhasil, membatik mulai dijadikan pekerjaan sehari-hari masyarakat karena bisa memiliki nilai jual. Seiring dengan jatuhnya kerajaan Majapahit, tradisi membatik berlanjut pada masa pemerintahan kerajaan Islam, terutama pada masa setelah pemerintahan Mataram (1588-1681). Kerajaan Mataram adalah tempat kelahiran Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Kedua daerah ini erat kaitannya dengan perkembangan batik wanita tradisional Indonesia.

Kesultanan Surakarta sebagai pecahan kerajaan Mataram memiliki corak batik yang khas yaitu Sidomukti dan Sidoluruh. Motif sidomukti biasa dipakai sebagai baju pengantin dalam upacara pernikahan, dengan harapan akan ada kebahagiaan dan kesejahteraan bagi mempelai wanita yang menggunakan batik. Sedangkan motif Sidoluhur memiliki makna harapan agar penggunanya memiliki hati dan budi pekerti yang luhur sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Di Yogyakarta sendiri, batik pertama kali dikenal pada masa pemerintahan Mataram I, di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati. Sebagaimana pada masa kesuksesan Majapahit, pembatikan yang berkembang pada masa kesuksesan Kesultanan Yogyakarta hanya terbatas pada pemerintahan (keraton). Tradisi membatik dilanjutkan oleh abdi dalem (pembantu pemerintah). Pada masa kesultanan, terkadang orang keraton mengenakan pakaian batik sebagai bagian dari upacara resmi kerajaan. Inilah awal mula batik mulai terkenal di masyarakat.

Penyebaran sentra industri batik di Jawa dipengaruhi oleh beberapa faktor:

Perluasan Kerajaan Majapahit

Dalam upaya memperluas wilayah pemerintahan Majapahit, beberapa pejabat pemerintah dan keluarga pemerintah membawa budaya batiknya ke kabupaten baru tersebut. Seperti yang terjadi di daerah Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo, Mojokerto.

Majapahit runtuh

Pada saat runtuhnya kerajaan Majapahit, banyak keluarga kerajaan Majapahit yang mengungsi ke berbagai daerah. Selama penerbangan, beberapa menularkan ilmunya tentang membatik kepada penduduk setempat sehingga yang belum mengenal batik bisa mengenal dan membatik sendiri. Hal ini terjadi di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, dimana terdapat sentra industri batik yang pertama kali dirintis oleh salah satu keluarga kerajaan Majapahit.

Perang Diponegoro

Setelah Perang Diponegoro (1825-1830) banyak penduduk Kerajaan Mataram pindah. Mereka mencari daerah yang lebih aman dari perang, seperti Banyumas, Pekalongan, Kebumen, Tasikmalaya dan Ciamis.

Dengan merebaknya batik di berbagai daerah di pulau Jawa, koleksi batik tradisional Indonesia semakin diperkaya. Hal ini disebabkan semakin banyaknya bermunculan motif-motif batik baru di kabupaten-kabupaten tersebut yang masing-masing daerah memiliki ciri dan motif tersendiri.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*