Keraton Surabaya yang Belum Pernah Kita Ketahui Sebelumnya

Berbicara tentang keraton, pikiran kita langsung membayangkan keraton Yogyakarta atau keraton Surakarta di Solo. Namun, siapa sangka kota metropolitan seperti Surabaya juga punya istana.

Menurut tim travel Jember Surabaya tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan Keraton Surabaya. Namanya sudah tidak asing lagi, meski dalam buku sastra dan sejarah sekolah hampir tidak pernah disebutkan.

Sejarah Singkat Istana Surabaya

Berawal dari pertarungan sengit dengan tentara Mongol yang kemudian dimenangkan oleh Raden Wijaya, mulai tahun 1293 Hujung Galuh berubah nama menjadi Curabhaya yang artinya berani menghadapi bahaya. Sistem pemerintahan juga menjadi kerajaan.

Setelah bertahun-tahun, Surabaya menjadi daerah yang semakin sulit. Berlokasi strategis di dekat laut dengan pusat kota di tepi sungai, kawasan yang kemudian dipimpin oleh Pangeran Jayalengkara menjadi incaran kerajaan Mataram.

Di puncak kejayaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Surabaya menjadi satu-satunya wilayah yang tidak bisa ditaklukkan, karena pertahanannya yang kuat.

Serangkaian penggerebekan dilakukan dari tahun 1620 hingga 1625, tetapi selalu gagal. Pasalnya, Keraton Surabaya dikelilingi tembok setinggi empat meter, sehingga musuh selalu kesulitan untuk menaklukkannya.

Tak selalu berhasil dalam serangan langsung, Sultan Agung pun tak dibiarkan tanpa taktik. Ia melemahkan Surabaya dengan menyerang sekutu dari ibu kota Jawa Timur. Sultan Agung kemudian mengirimkan pasukan untuk menyerang Sukadana, (Kalimantan Selatan) yang selalu memberikan bantuan pasukan ke kota Surabaya. Ia pun mengirimkan pasukan untuk menyerang Pulau Madura yang dianggapnya federasi Surabaya.

Setelah dianggap lemah, penyerangan besar-besaran di Surabaya dimulai pada tahun 1625. Meskipun Pangeran Pekik putra Pangeran Jayalengkara berhasil mempertahankan kota dan mendorong pasukan Matram di Wirosobo, Mataram tetaplah gila.

Pasukan Mataram kemudian memblokir Kali Mas, pangeran Sungai Brantas yang mengaliri kota dan menjadi sumber kehidupan utama masyarakat Surabaya. Caranya dengan membenamkan ratusan pohon kelapa yang didukung, kemudian memberikan bangkai hewan pada setiap pohon kelapa.

Akibatnya, Surabaya kekurangan air bersih dan krisis pangan. Hanya sedikit air yang mengalir, meski terkontaminasi bangkai. Tidak sedikit orang yang meninggal karena kelaparan dan penyakit.

Karena tidak berani melihat penderitaan rakyatnya, Pangeran Jayalengkara pergi menemui Tumenggung Mangunoneng, Panglima Mataram, untuk meminta bendungan dibongkar. Pada kesempatan inilah Pangeran Jayalengkara memutuskan untuk menyerah. Surabaya sejak itu menjadi milik Mataram.

Nah, Pastikan semuanya sudah terencana dengan baik terutama persiapan Anda selama tinggal di kota Pahlawan ini dengan memilih travel Jember Surabaya. Selamat berlibur di Surabaya dan kunjungan Anda ke museum pada 10 November.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*